Melasti
Ragam budaya, berkaitan erat dengan ritus kehidupan
beragama orang Bali. Aktivitas ritual dalam bentuk upacara dan persembahan,
sudah dikenal oleh masyarakat Bali, jauh sebelum pengaruh agama Hindu masuk ke
Bali. Agama Hindu sendiri, masuk ke Bali pada abad ke-8 masehi, yang dibawa
oleh Maha Rsi Markandeya.
Sebelum dikenalnya Agama Hindu, kepercayaan orang Bali,
disebut dengan agama Tirta. Disebut Agama Tirta, karena dalam keyakinan orang
Bali, air memegang peran vital, bagi kelangsungan semua mahluk hidup. Ada
beberapa tinggalan budaya agama Tirta, yang masih bisa kita saksikan hingga
hari ini, misalnya saja, keberadaan pura-pura besar di kawasan air, seperti di
laut, danau dan sumber mata air lainnya. Selain adanya pura di daerah sumber mata air, peninggalan
agama tirta lainnya, yang masih diwarisi di Bali adalah, upacara Melasti. Melasti
secara rutin digelar oleh masyarakat Hindu di Bali,menjelang upacara besar
seperti Nyepi.
Tak hanya menjelang perayaan Nyepi saja, masyarakat Hindu
di Bali melaksanakan upacara Melasti, di beberapa daerah, melasti juga
dilaksanakan setelah perayaan Nyepi, dan ketika ada upacara keagamaan berskala
besar, seperti Karya atau piodalan.
Ada beberapa versi tentang makna melasti. Namun secara umum,
melasti diketahui sebagai proses penyucian bhuwana agung atau makrokosmos.
Melasti, berasal dari kata lasti, yang kemudian mendapat prefiks atau awalan me.
Lasti berarti tepi, dan senyatanya melasti memang perjalanan menuju tepi mata
air.
Jika dilihat dari sudut pandang religius, melasti memang
merupakan sebuah ritual, untuk memuja kebesaran Hyang Widhi Wasa, dalam
manifestasi beliau sebagai pemelihara. Namun tak hanya mengandung makna
religius, kegiatan melasti ini juga menyiratkan nilai kasih sayang, dan pelestarian
lingkungan.
Pada umunya melasti di Bali, dilaksanakan di sumber-sumber
mata air, seperti laut, sungai, danau, serta mata air lainnya. Leluhur orang
Bali, tentunya memiliki alasan, mengapa tempat-tempat tersebut dijadikan pusat
kegiatan melasti.
Selain memiliki fungsi sebagai pemelihara, air juga
berfungsi sebagai sarana pembersih, dari berbagai mala atau kekotoran, baik
yang bersifat jasmani maupun rohani. Penggunaan air sebagai salah satu sarana
utama dalam sebuah ritual di Bali, mengisyaratkan, betapa orang Bali sangat
memuliakan serta menjaga sumber-sumber mata air tersebut.
Air, merupakan salah satu komponen terpenting, untuk
memelihara kehidupan di bumi. Manusia membutuhkan air untuk mempertahankan
hidup, dan alam membutuhkan air untuk menjaga kelangsungan mahluk hidup lainnya.
Dalam sistem religi Hindu di Bali, air juga memegang
peranan yang sangat penting, sebagai salah satu sarana upakara yang utama. Air
yang sudah diberkati dengan doa, disebut dengan tirtha. Tirtha berfungsi
sebagai lambang penyucian atau pembersihan. Selain sebagai tirta, dalam religi
Hindu, air juga berfungsi sebagai penglukatan.
“melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken
laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana, amet sarining amertha ring
telenging segara “ (sumber : Lontar Sundarigama dan Swamandala)
Artinya : Melasti berarti membawa semua pratima dewata
untuk menghanyutkan kekotoran, penderitaan, dan unsur-unsur dunia yang tidak
baik serta mengambil tirtha amertha di tengah laut.
Perjalanan menuju air, menjadi cita-cita sangat intim dalam
semua retret manusia Bali menemukan keheningan, mengingat air, menjadi muasal
dan pusat tuju orang Bali. Melasti di
Bali, semestinya tidak hanya berhenti sampai tahap ritual semata. Dalam prosesi
melasti, tersirat sebuah pesan moral, yakni menjaga keseimbangan hidup antara
manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam
semesta.
Berbagai upacara keagamaan, yang dilaksanakan oleh
masyarakat Hindu di Bali, tidak terlepas dari tiga kerangka dasar Agama Hindu,
yakni Tattwa, Susila , dan Upacara. Sinergitas dari ketiga kerangka dasar
tersebut, secara nyata dapat dilihat dari prosesi ritual melasti, yang mana
selain memuja kebesaran Tuhan, manusia diingatkan dan diajarkan untuk menjaga
alam dan lingkungan, yang telah memelihara manusia, serta mahluk hidup lainnya.
Begitu besar dan beragam manfaat air dalam kehidupan manusia.
Bayangkan, apabila sumber-sumber mata air di bumi ini tidak
dijaga dan dipelihara dengan baik. Masih mungkinkah ada kehidupan di bumi?.
Manusia sebagai mahluk yang dibekali rasa dan pikiran, sepatutnya bersikap
ramah kepada alam.
Lebih dari tujuh miliar manusia, serta jutaan mahluk hidup
lainnya, menggantungkan hidup pada alam semesta ini. Alam memberi berbagai
kebaikan hidup, dan tanggungjawab manusia adalah menjaga dan memelihara segala
yang ada di bumi ini. Begitu pentingnya air, melasti akan mengingatkan kepada
kita, agar senantiasa memuliakan air sebagai sumber kauripan. Bila sumber air
mengering, tentu ada sesuatu yang tidak harmonis dalam ekosistem.
Melasti adalah satu dari sekian banyak warisan Agama Tirta
di Bali. Melalui pelaksanaan upacara Melasti, manusia diingatkan untuk kembali
menjadi mahluk alam, yang hidupnya juga dipelihara oleh alam. Begitu luhur mahakarya para pendahulu kita, yang
telah mewariskan kearifan kepada umat manusia. Melasti, salah satu cerminan
kebijakan orang Bali, dalam menjalankan Tri Hita Karana.
Menjaga keharmonisan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, serta dengan alam semesta, yang merupakan rumah bagi semua mahluk hidup di bumi. Orang Bali sadar, hanya ada dua hal yang bisa “ening”, yakni air dan pikiran.
Menjaga keharmonisan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, serta dengan alam semesta, yang merupakan rumah bagi semua mahluk hidup di bumi. Orang Bali sadar, hanya ada dua hal yang bisa “ening”, yakni air dan pikiran.

Komentar
Posting Komentar