Melasti

Keindahan panorama alam bali, memang tak dapat dipungkiri. Bali memiliki luas wilayah keseluruhan, lebih dari lima ribu kilo meter persegi, yang terdiri atas wilayah daratan, lautan, serta pulau-pulau kecil disekitarnya. Tak hanya panorama alam yang menakjubkan, tetapi keunikan serta keanekaragaman adat dan budaya Bali, juga menjadi daya tarik yang tiada duanya.

Ragam budaya, berkaitan erat dengan ritus kehidupan beragama orang Bali. Aktivitas ritual dalam bentuk upacara dan persembahan, sudah dikenal oleh masyarakat Bali, jauh sebelum pengaruh agama Hindu masuk ke Bali. Agama Hindu sendiri, masuk ke Bali pada abad ke-8 masehi, yang dibawa oleh Maha Rsi Markandeya.

Sebelum dikenalnya Agama Hindu, kepercayaan orang Bali, disebut dengan agama Tirta. Disebut Agama Tirta, karena dalam keyakinan orang Bali, air memegang peran vital, bagi kelangsungan semua mahluk hidup. Ada beberapa tinggalan budaya agama Tirta, yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini, misalnya saja, keberadaan pura-pura besar di kawasan air, seperti di laut, danau dan sumber mata air lainnya. Selain adanya pura di daerah sumber mata air, peninggalan agama tirta lainnya, yang masih diwarisi di Bali adalah, upacara Melasti. Melasti secara rutin digelar oleh masyarakat Hindu di Bali,menjelang upacara besar seperti Nyepi.

Tak hanya menjelang perayaan Nyepi saja, masyarakat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melasti, di beberapa daerah, melasti juga dilaksanakan setelah perayaan Nyepi, dan ketika ada upacara keagamaan berskala besar, seperti Karya atau piodalan.

Ada beberapa versi tentang makna melasti. Namun secara umum, melasti diketahui sebagai proses penyucian bhuwana agung atau makrokosmos. Melasti, berasal dari kata lasti, yang kemudian mendapat prefiks atau awalan me. Lasti berarti tepi, dan senyatanya melasti memang perjalanan menuju tepi mata air.
Jika dilihat dari sudut pandang religius, melasti memang merupakan sebuah ritual, untuk memuja kebesaran Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasi beliau sebagai pemelihara. Namun tak hanya mengandung makna religius, kegiatan melasti ini juga menyiratkan nilai kasih sayang, dan pelestarian lingkungan.

Pada umunya melasti di Bali, dilaksanakan di sumber-sumber mata air, seperti laut, sungai, danau, serta mata air lainnya. Leluhur orang Bali, tentunya memiliki alasan, mengapa tempat-tempat tersebut dijadikan pusat kegiatan melasti.
Selain memiliki fungsi sebagai pemelihara, air juga berfungsi sebagai sarana pembersih, dari berbagai mala atau kekotoran, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Penggunaan air sebagai salah satu sarana utama dalam sebuah ritual di Bali, mengisyaratkan, betapa orang Bali sangat memuliakan serta menjaga sumber-sumber mata air tersebut.

Air, merupakan salah satu komponen terpenting, untuk memelihara kehidupan di bumi. Manusia membutuhkan air untuk mempertahankan hidup, dan alam membutuhkan air untuk menjaga kelangsungan mahluk hidup lainnya. 

Dalam sistem religi Hindu di Bali, air juga memegang peranan yang sangat penting, sebagai salah satu sarana upakara yang utama. Air yang sudah diberkati dengan doa, disebut dengan tirtha. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian atau pembersihan. Selain sebagai tirta, dalam religi Hindu, air juga berfungsi sebagai penglukatan.

“melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana, amet sarining amertha ring telenging segara “ (sumber : Lontar Sundarigama dan Swamandala)

Artinya : Melasti berarti membawa semua pratima dewata untuk menghanyutkan kekotoran, penderitaan, dan unsur-unsur dunia yang tidak baik serta mengambil tirtha amertha di tengah laut.

Perjalanan menuju air, menjadi cita-cita sangat intim dalam semua retret manusia Bali menemukan keheningan, mengingat air, menjadi muasal dan pusat tuju orang Bali.  Melasti di Bali, semestinya tidak hanya berhenti sampai tahap ritual semata. Dalam prosesi melasti, tersirat sebuah pesan moral, yakni menjaga keseimbangan hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam semesta.

Berbagai upacara keagamaan, yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Bali, tidak terlepas dari tiga kerangka dasar Agama Hindu, yakni Tattwa, Susila , dan Upacara. Sinergitas dari ketiga kerangka dasar tersebut, secara nyata dapat dilihat dari prosesi ritual melasti, yang mana selain memuja kebesaran Tuhan, manusia diingatkan dan diajarkan untuk menjaga alam dan lingkungan, yang telah memelihara manusia, serta mahluk hidup lainnya. Begitu besar dan beragam manfaat air dalam kehidupan manusia. 
Bayangkan, apabila sumber-sumber mata air di bumi ini tidak dijaga dan dipelihara dengan baik. Masih mungkinkah ada kehidupan di bumi?. Manusia sebagai mahluk yang dibekali rasa dan pikiran, sepatutnya bersikap ramah kepada alam.

Lebih dari tujuh miliar manusia, serta jutaan mahluk hidup lainnya, menggantungkan hidup pada alam semesta ini. Alam memberi berbagai kebaikan hidup, dan tanggungjawab manusia adalah menjaga dan memelihara segala yang ada di bumi ini. Begitu pentingnya air, melasti akan mengingatkan kepada kita, agar senantiasa memuliakan air sebagai sumber kauripan. Bila sumber air mengering, tentu ada sesuatu yang tidak harmonis dalam ekosistem.

Melasti adalah satu dari sekian banyak warisan Agama Tirta di Bali. Melalui pelaksanaan upacara Melasti, manusia diingatkan untuk kembali menjadi mahluk alam, yang hidupnya juga dipelihara oleh alam.  Begitu luhur mahakarya para pendahulu kita, yang telah mewariskan kearifan kepada umat manusia. Melasti, salah satu cerminan kebijakan orang Bali, dalam menjalankan Tri Hita Karana.

Menjaga keharmonisan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, serta dengan alam semesta, yang merupakan rumah bagi semua mahluk hidup di bumi. Orang Bali sadar, hanya ada dua hal yang bisa “ening”, yakni air dan pikiran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Room B (Hot Promo)